Selasa, 25 Maret 2014

SEJARAH SEKADAU (KALIMANTAN BARAT)

Nama “SEKADAU” ter-asumsi menjadi dua versi, pertama. Terambil darisejenis pohon kayu yang banyak tumbuh di muara sungai yang sekarang disebut SUNGAI SEKADAU. Oleh penduduk, pohon kayu ini disebut “BATANGADAU”. Versi lain menyebutkan, masyarakat pedalama n pada zaman dahulu, jika melihat sesuatu yang asing, mereka menyebutnya “BARU ADAU” (Baru melihat). Dengan dua pernyataan yang masih kontraversi itu, lahirlah sebutan istilah Sungai Sekadau.Asal mula penduduk Sekadau, dikisahkan berasal dari pecahan rombonganDara Nante. Rombongan ini masih ada lagi yang telah meneruskan perjalanannyake Hulu Sungai Kapuas. Dibawah pimpinan SINGA PATIH BARDAT danPATIH BANGI. Rombongan Singa Patih Bardat, telah berkembang biak danmenurunkan suku Kematu, Suku Benawas, Sekadau, Melawang dan Ketungau. Rombongan yang dipimpin oleh Patih Bangi, meneruskan perjalanannya ke daerah Belitang sekarang. Di daerah inilah berkembangnya keturunan Daya’ Melawang, Ketungau yang menurunkan raja-raja Sekadau.
Mula-mula kerajaan Sekadau berdomisili di daerah KEMATU. Kuranglebih 3 km sebelah hilir Rawak. Didaerah ini benyak terdapat makam raja-raja.Kemudian dipindahkan ke Sekadau tepatnya di sungai Bara’. Disinilah ibu kota kerajaan Sekadau dibangun dengan kraton sebagai pusat pemerintahannya. Suku-suku tersebut diatas masing-masing dipimpin oleh Kepala Adat yang dipanggilKiyai. Adapun gelar dari ke empat Kiyai tersebut adalah : Kiayi MASTUMENGGUNG, Kiayi DIPA DIRAJA, Kiayi MAS SUTADILAGA dan KiayiMAS SUTA NATA. Kedudukan Kiayi-kiayi ini amat kuat karena mereka turutmenentukan pengangkatan seorang raja dan disamping itu merekalah yang bertanggung jawab atas soal ketentraman dan kelancaran pemungutan pajak.Gelar-gelar yang lebih tinggi sesudah Kiayi berturut-turut menurut tingkatannyaadalah : Tumenggung, Patih, Demang dan Naga Lantai. Yang dapat diangkatmenjadi Naga Lantai adalah yang mempunyai keahlian mengenai adat istiadat dan sudah berumur 70 tahun keatas.
Menurut kisah nyata dari rakyat Sekadau, bahwakerajaan Sekadau telah diperintahkan berturut-turut oleh keturunan PRABUJAYA dan keturunan RAJA-RAJA SIAK BULUN (Bahulun dari Sungai KeriauRaja turun temurun itu secara ditael tak dapat lagi disebutkan, karena tak ada data-data yang diketemukan.Baik cerita rakyat, apalagi penulisannya, yang jelas itulah yang akandiuraikan sebagai berikut. Raja Sekadau pertama yang dapat disebutkan adalahPANGERAN ENGKONG. Pangeran Engkong dengan empat bersaudara : 1.PANGERAN AGONG PRABU JAYA 2. PANGERAN ENGKONG 3.PANGERAN SENARONG 4. RATU KUDONG Dari ke empat bersaudaratersebut, Pangeran Engkonglah yang telah terpilih menjadi raja Sekadau sesudahayahnya wafat. Sedangkan Pangeran Senarong menurunkan raja-raja Belitang.Pangeran Engkong adalah putra dari kedua. Menurut baginda telah memilihnya berdasarkan penelitian kecakapan mereka sendiri-sendiri. Pangeran Engkongternyata lebih bijaksana dari yang lainnya, ia tahu dan mengerti akan keadaanrakyat.Pangeran Agong sangat berkecil hati, karena tidak terpilih sebagai pengganti ayahandanya. Ia tak kurang akal juga untuk mengatasi perasaannyayang gundah dan tertekan itu. Ia mengajak dan mempengaruhi segala rakyat yang senang padanya, mereka berunding dan berangkat meninggalkan Sekadau menujudaerah Kuari, daerah ini masih meninggalkan bekasnya, walaupun kelihatan telahmenghutan–belukar saja. Hingga kini rakyat Sekadau menyebutnya “LAWANGKUARI” yang kini juga disebut sebagai simbol (khas) Sekadau, karena sudahmenjadi kabupaten baru menjadi sebutan “SEKADAU KOTA LAWANGKUARI” Banyak orang yang senang mendatangi Lawang Kuari untuk maksud-maksud tertentu. Untuk mendatangi daerah ini harus tahu syarat-syarattahayulnya. Banyak keanehan yang dapat diketemukan di daerah Lawang Kuari itu, oleh rakyat Sekadau daerah ini juga disebut “BATANG PANJANG MENGHILANG” Perkembangan Kerajaan Sekadau selanjutnya, diawali dengan perjalanan Sultan Anum oleh orang tuanya untuk mendatangi Mempawah guna untuk memperdalam pengetahuannya, terutama dalam bidang agama Islam. Itulahsebabnya kerajaan Sekadau dikala pemerintahannya agama Islam sangat pesat penyebarannya, sehingga Daya’ Kematu yang telah banyak masuk dan memeluk  agama Islam dikala itu. Karena ramainya pemeluk agama Islam, pindahlah ibu kota kerajaan kehilir Sungai Bara’ Sekadau. Dengan bantuan rakyat yang rela berkorban dan dengan kesadaran, kerajaan Sekadau telah membangun sebuahmesjid untuk mereka bersembahyang, mesjid tersebut masih gagah hinggasekarang, cuma karena dipengaruhi renovasi oleh masyarakat setempat ciri khaskeasliannya sudah tidak tampak lagi.Pangeran Suma Negara meninggal dunia, telah digantikan oleh putramahkota Abang Todong dengan gelar SULTAN ANUM.
Setelah putra Mahkotadewasa, ia pun dinobatkan dan memerintah dengan gelar “SULTAN MANSUR” (Putra Sultan Anum ). Waktu itu oleh Belanda, Sekadau dianjurkan menggunakanPenembahan dibawah kekuasaan Sultan Pontianak. Rakyat mendengar pernyataantersebut langsung menolak dan tak terima, maka terjadilah konflik horizontalantar rakyat, sehingga menimbulkan Perang Basah (Perang Saudara). KerajaanSekadau kemudian dialihkan kepada Gusti Mekah sebagai pejabat, Gusti Mekah bernama Sultan Mansur memerintah dengan gelar PANEMBAHAN GUSTIMEKAH SRI NEGARA. Sesudah pemerintahan Panembahan Mekah Sri Negaradan saudaranya Gusti Isa, dengan gelar Pangeran Perdana Menteri berakhir, MakaPanembahan Gusti Akhmad Sri Negara dinobatkan naik tahta kerajaan. Tapi nasibmalang bagi beliau dengan keluarganya, oleh penjajah Belanda telahmengasingkannya ke Jawa, di Malang. Dengan tuduhan palsu sebagai penghasut para tumenggung untuk melawan Belanda. Karena pengasingan PanembahanGusti Akhmad Sri Negara tersebut maka, Panembahan Haji Gusti Abdullahdiangkat dengan gelar Pangeran Mangku sebagai wakil Panembahan. Ia pun dipersilahkan mendiami kraton di Sungai Bara’. Belum lama Pangeran Mangkudinobatkan sebagai wakil panembahan , iapun berpulang kerakhmatullah.Kedudukannya diganti oleh Panembahan Gusti Akhmad, yang kemudian digantilagi oleh Sri Utin ( Istri dari Gusti Hamid ), dengan gelar Sri Ratu Negara. Setelah kembalinya beliau kerakhmatullah, digantilah Panembahan Gusti Kelip sebagairaja Sekadau.Gusti Kelip pun menjadi korban penyungkupan Jepang di Mandor padatahun 1944. Untuk meneruskan pemerintahan kerajaan Sekadau, rakyatmengangkat Gusti Mohammad Kolen Sri Negara (Cucu Sultan Anum) sebagai pemegang pucuk pemerintahan kerajaan Sekadau. Ia telah memerintah sekitar tahun 1944-1952. Tahun 1946, Gusti Adnan diangkat memimpin kembali kerajaan Belitang. Pada bulan Juni 1952 Gusti Mohammad Kolen Sri Negara bersama Gusti Adnan, menyerahkan administrasi kerajaan langsung kepada pemerintah pusat di Jakarta. Pada waktu itu Mr.Mohammad Roem menjabatsebagai Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, yang disaksikan oleh SayutiMalik (Pengetik Naskah Proklamasi Kemerdekaan RI). Sekembalinya mereka dariJakarta, Kerajaan Sekadau administrasinya diserahkan langsung kepada Swapraja.Setelah Sekadau menjadi Kewedanaan maka diangkatlah Gusti Adnan sebagai Wedana pertama di Sekadau.

Disadur oleh : Aden (Rustam)


1 komentar:

BANGDIN.COM mengatakan...

Trims atas infonya silsilah yg dituliskan. Untuk klarifikasi data sejarah mudah2an kapan2 kita bisa berjumpa dlm kegiatan2 yang berkaitan dengan pertemuan kerabat keraton Sekadau. Wassalam. Salam sukses.